Upaya Menggali dan Memberdayakan Energi Terpendam Manusia

 Upaya Menggali dan Memberdayakan Energi Terpendam Manusia

    Rasulullah saw. waspada betul terhadap sifat licik dan khianat kaum Yahudi, khususnya dalam memanupulasi perjanjian dan dokumen. Beliau meminta salah seorang penulis wahyu, Zaid bin Tsabit untuk memperlajari bahasa Suryani, salah satu cabang bahasa Ibrani. Maka, "Aku selesai mempelajarinya dalam 14 hari," demikian pengakuan Zaid (h.r. Bukhari).

    Pada saat Huyay bin Al-Ahthab telah begitu merepotkan Jamaah Islamiyah yang dipimpin Rasulullah saw. di Madina, beliau melontarkan suatu kalimat, "Siapa yang siap membebaskan daku dari gangguan Huyay?" Suatu regu kecil yang lincah, solid, dan efektif membetnuk diri bagi suatu misi. Mereka sukses "menyelesaikan" Huyay dan benteng Khaibar yang sangat kaut itu jatuh ke tangan muslimin.

    Huyay bukan saja benci kepada Rasululla saw., tetpai juga meyebarkan kebenciannya kepada berbagai kalangan. Setiap calon menantunya harus dijamin membenci Rasulullah saw.

    Rib'i bin Amir bukanlah orang yang 'berpangkat tinggi' dalam pasukan perang Qadisiyah. Namun, itu tak membuatna terkucil untuk menggeluti tugas-tugas besar. Ia diutus untuk merespon undanganJenderal Rustum, panglima pasukan Persia. Saat mendatangi kemah panglim, Rib'i menagnkap nuasn pelcehan terhadap umat Ilsmam melalu bahasa kongkret, yakni permadani Persia ang tebal dan indah. Ia menagkap makan tuduhan, umat ISlma berjuang ntnuk mencari keakyaan dunia.

    Menyadari itu, ia segera menjawab dengan bahasa kongkret ang lebih taja. Disertenya tombak di atas permadani dan tunggannya pun tetap menginja permadani. "Meang kami akan emang.. Kalau tujuan kami adalah harat, tentu kami harus menajda permaadani ii ldenga lembut dan sabat. Tetapi, aku berani menteretkan tomabkku dan kususru h keledaiku menginjakkan kakakinyua diatas peramadani wmewah ini."

    Pada saat menhaadap Rustum yang - atas saran tetuanya--membangun gapura rendah di depan singgasananya, agar Rib'i datang menunduk. Ia memang datang menunduk,, tetpai dengan --maaf-- pantatnya lebih dulu dihdapakan ke Rustum. Dari dialig dinagka tentang rtujuan perjuangan dan dakwah Isalam, ia berhadisl mematakan argumentasi lawan dan menejlaskan hakikat tauhid dan kemerdekakan mansuia. Bahkan, para budah di sektiar Rustum berkomentar, "Benarlah ucapan muslmi ini."

    Abdullah bin Zubair anak muhajir pertama , lahir di Darul Hijrah, Madinah yang bercahaya. Sebelumhya, Sebuah berita mengguncang Madinah. Pasalnya, kaum Yahudi telah mengumumkan, para dukun dan paranormal mereka telah mengirimkan tenung-tenung untuk mencelakai para sahabat, khususnya muhajirin. "Tak ada anak dilahirkan untuk mereka!"

    Ajaib, yang lahir justru Abdullah. Ibunya Asma' binti Abi Bakar, Ayahnya Zubair bin Awwam. Saat bayi-bayi lain seumurnya mulai mampu mengucapkan sepatah kata "ma, ma, ba, ba", Abdullah mengucapkan "saif, saif" (pedang, pedang). Saat teman-temannya berhamburan ketakutan karena kedatangan Umar bin Khaththab, yang mereka dengar dari orang-orang pasar bersifat galak terhadap para pedangan nakal, Abdullah tegak dengan hormat.

    "Mengapa engkau tak berhamburan seprti teman-temanmu?" tanya beliau. Dengan sigap Abdullah menjawab, "Lam artakib dzamban fa akhafaka wa ahrab, walam takuni't Thariqu dhayiqatan fau uwassi'a lak (Aku tak melakukan kesalahan apa pun, buat apa aku takut kepadamu dan berhamburan? Jalan pun tak sempit, buat apa menyingkir?)".

    Kisah-kisah di atas dan banyak kisah lainnya, jelas tak lahir dari sekolah kepribadian atau lembaga kursus motivasi 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untukmu Para Da'i : Sebuah Persembahan dari Sang Murabbi

Fiqh Dakwah Sebuah Pengantar